Akses terhadap air minum layak dan bersih masih menjadi salah satu tantangan lingkungan serta kesehatan yang sangat signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data yang tercatat pada tahun 2025, menunjukkan bahwa sebanyak 1.801 badan air di Indonesia mengalami kondisi tercemar. Permasalahan kualitas air ini menuntut adanya berbagai upaya serius dalam pemulihan ekosistem secara menyeluruh. Sebagai salah satu langkah strategis, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berencana untuk menyelenggarakan Konferensi Sungai 2026 di Mojokerto guna memperkuat kolaborasi dalam pemulihan ekosistem air. Di sisi lain, tindakan langsung di tingkat tapak melalui kolaborasi sosial menjadi solusi cepat untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan pasokan air layak konsumsi sehari-hari.
Salah satu langkah nyata dalam mengatasi kendala akses air minum ditunjukkan melalui program kolaborasi sosial antara Yayasan Bakti Merah Putih (BMP) dan Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (Ipemi) Jakarta Selatan. Pada hari Kamis, 30 Juli 2026, kedua organisasi tersebut turun langsung untuk menyalurkan bantuan berupa alat penyaring air minum kepada warga yang bermukim di Kampung Bulak Bondan, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Program penyaluran ini menjadi tonggak penting karena merupakan kolaborasi perdana yang dilakukan oleh Yayasan Bakti Merah Putih bersama dengan Ipemi Jakarta Selatan. Kegiatan ini juga didukung oleh para tokoh dari kedua lembaga, termasuk Atta Ul Karim selaku pendiri Yayasan Bakti Merah Putih, Rifai Akif sebagai Ketua Yayasan Bakti Merah Putih, serta Linda Sjamsoeddin yang menjabat sebagai Ketua Ipemi Jakarta Selatan.








