farmigo.id
BerandaSosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomyGeneral NewsSains & TeknologiBisnisSepak BolaMetroPolitikTransportasiGaya HidupMegapolitanPemerintahanYogyakartaOtomotif & WirausahaLayanan PublikPendidikan & KarierPopuler
Beranda/Ekonomi

Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional

Berlin SiregarDiterbitkan 31 Jul 2026 - 02.51 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional
Foto/Ilustrasi: news.republika.co.id.
A-A+

Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat kemandirian pangan, salah satunya di sektor pergulaan yang memegang peran vital. Salah satu langkah strategis yang saat ini didorong secara penuh adalah kebijakan yang mewajibkan seluruh pabrik gula rafinasi untuk membangun kebun tebu sendiri. Kebijakan ini mendapatkan dukungan penuh dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI. Melalui Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI, HM Arum Sabil, asosiasi menyatakan dukungan terhadap regulasi tersebut demi memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku di dalam negeri. Langkah kewajiban membangun lahan mandiri ini dinilai sangat krusial untuk memperkuat pasokan bahan baku sekaligus mempercepat pencapaian target swasembada gula nasional di Indonesia.

Dalam ekosistem pergulaan nasional, terdapat dua jenis pabrik utama yang beroperasi dan menopang kebutuhan pasar, yaitu pabrik Gula Kristal Putih (GKP) dan pabrik Gula Rafinasi (GKR). HM Arum Sabil memandang bahwa pabrik GKP dan pabrik GKR merupakan dua pilar penting yang harus saling memperkuat dalam membangun industri gula nasional secara menyeluruh. Dengan adanya kewajiban bagi pabrik rafinasi untuk memiliki kebun tebu sendiri, integrasi antara industri pengolahan dan sektor

farmigo.id

Copyright 2026 farmigo.id - All Rights Reserved.

Kategori

SosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomy
pertanian
hulu diharapkan dapat berjalan lebih selaras. Arum juga mengusulkan agar pabrik gula rafinasi tidak hanya berperan mengolah gula mentah impor untuk kebutuhan industri, tetapi juga berinvestasi nyata di sektor hulu melalui pembangunan kebun tebu dan perluasan kemitraan dengan para petani.

Kebutuhan gula di Indonesia terbagi menjadi dua sektor utama dengan volume yang cukup besar setiap tahunnya. Kebutuhan gula untuk konsumsi rumah tangga nasional saat ini berada di kisaran 2,9 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman diperkirakan masih berkisar antara 3,8 hingga 3,9 juta ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga tersebut, kinerja sektor pergulaan nasional menunjukkan tren yang semakin positif. Produksi nasional Gula Kristal Putih (GKP) diproyeksikan dapat mencapai sekitar 3,044 juta ton pada tahun 2026. Angka ini mengalami kenaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,67 juta ton.

Baca Juga

Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 Triliun

Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 Triliun

Untuk mendukung pencapaian target produksi tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan pada berbagai indikator pertanian tebu pada tahun 2026. Luas areal tebu nasional diproyeksikan meningkat dari 563 ribu hektare menjadi 576.537,70 hektare. Sejalan dengan perluasan lahan, produktivitas tebu juga ditargetkan naik dari 69,35 ton per hektare menjadi 70,87 ton per hektare. Kualitas hasil panen tebu juga diharapkan membaik dengan proyeksi peningkatan rendemen tebu dari yang sebelumnya 6,83 persen menjadi 7,45 persen. Peningkatan pada berbagai indikator inilah yang akan mendorong proyeksi produksi nasional sehingga diperkirakan mampu melampaui kebutuhan gula konsumsi rumah tangga nasional di masa mendatang.

Untuk mencapai target-target tersebut, Kementerian Pertanian terus mempercepat berbagai langkah taktis melalui program strategis yang berkelanjutan. Upaya akselerasi ini meliputi peremajaan kebun tebu, peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, penerapan mekanisasi dalam budidaya tebu, penyediaan pupuk bagi petani, pembangunan infrastruktur pendukung, serta revitalisasi pabrik gula. Program-program ini dirancang untuk memastikan kesiapan sektor hulu dalam memasok bahan baku industri. Ketersediaan bahan baku yang memadai di hulu diyakini akan mampu meningkatkan kapasitas produksi secara keseluruhan sekaligus memberikan kepastian pasar yang lebih baik bagi para petani tebu.

Baca Juga

Memahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank Danamon

Memahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank Danamon

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan industri gula nasional membutuhkan peningkatan produksi tebu dan penguatan keterpaduan dari sektor hulu hingga ke hilir. Menurutnya, produksi tebu harus ditingkatkan, produktivitas diperkuat, dan proses hilirisasi harus berjalan dengan baik agar nilai tambah dari industri ini dapat dinikmati secara langsung oleh para petani serta industri nasional. Ia menekankan bahwa swasembada gula hanya bisa dicapai jika sektor hulu dan hilir bergerak bersama. Sinergi antara pemerintah, petani, badan usaha milik negara, dan pelaku industri diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani tebu serta memperkuat ekonomi nasional secara keseluruhan.

Ikuti farmigo.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

PertanianKementerian PertanianIndustri GulaTebuAPTRI

Berita Terbaru Lainnya

Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 TriliunMemahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank DanamonMengenal Nusantara Explorer, Kereta Wisata Mewah Inisiasi Presiden Prabowo SubiantoFreeport Indonesia Tekankan Etika Bisnis untuk Dukung Produksi BerkelanjutanMemahami Sengkarut Tata Niaga dan Praktik Mafia Beras di IndonesiaPenyebab Tingginya Angka PHK di Tengah Pertumbuhan Ekonomi IndonesiaKPK Cari Celah Hukum Terkait Aturan Baru dalam UU P2SKPentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi di Pesantren untuk Mencegah Kekerasan Seksual

Paling Banyak Dibaca

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

Nasional

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

30 Jul 2026

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

Hukum

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

30 Jul 2026

Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 Triliun

Ekonomi

Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 Triliun

31 Jul 2026

Memahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank Danamon

Ekonomi

Memahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank Danamon

31 Jul 2026

Mengenal Nusantara Explorer, Kereta Wisata Mewah Inisiasi Presiden Prabowo Subianto

Nasional

Mengenal Nusantara Explorer, Kereta Wisata Mewah Inisiasi Presiden Prabowo Subianto

31 Jul 2026

Penyebab Tingginya Angka PHK di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ekonomi

Penyebab Tingginya Angka PHK di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi NasionalNasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom WidiyantoroHukum 路 30 Jul 2026
  3. 3Kinerja Keuangan bank bjb Semester I 2026, Laba Bersih Tumbuh 58,8 Persen dan Aset Capai Rp 228,2 TriliunEkonomi 路 31 Jul 2026
  4. 4Memahami Kinerja Kredit dan Manajemen Risiko Perbankan Melalui Laporan Semester I Bank DanamonEkonomi 路 31 Jul 2026
  5. 5Mengenal Nusantara Explorer, Kereta Wisata Mewah Inisiasi Presiden Prabowo SubiantoNasional 路 31 Jul 2026
General News
Sains & Teknologi
Bisnis
Sepak Bola
Metro
Politik
Transportasi
Gaya Hidup
Megapolitan
Pemerintahan
Yogyakarta
Otomotif & Wirausaha
Layanan Publik
Pendidikan & Karier

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap