Penerapan sistem koperasi bagi para petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali, terbukti memberikan dampak positif yang sangat signifikan bagi perekonomian lokal. Sistem ini tidak hanya mampu menstabilkan harga jual hasil panen di tingkat petani, tetapi juga memberikan pendampingan yang bersifat komprehensif dari awal masa tanam hingga proses pascapanen. Melalui wadah koperasi yang dikelola secara profesional, komoditas kakao fermentasi asal daerah ini kini berhasil menembus pasar ekspor. Bahkan, produk pertanian tersebut telah diakui secara global sebagai salah satu yang terbaik di dunia berkat konsistensi mutu yang terus dijaga oleh para petani binaan.
Salah satu pelaku utama yang merasakan manfaat langsung dari sistem ini adalah Ketut Sudomo, seorang petani kakao yang menetap di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya. Stabilitas harga sangat krusial karena menjadi acuan baginya dalam menghitung biaya penanaman dan perawatan pohon kakao. Dari lahan pertanian miliknya yang memiliki luas tiga hektare, ia kini mampu memproduksi lebih dari satu ton biji kakao kering berkualitas setiap tahunnya. Peningkatan kualitas biji kakao serta volume hasil panen tersebut dicapai berkat bimbingan berkelanjutan dari Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari. Pada periode tahun 2024 dan 2025, saat harga komoditas sedang membaik, stabilitas harga dari koperasi secara otomatis mendongkrak pendapatan yang ia terima.








