farmigo.id
BerandaSosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomyGeneral NewsSains & TeknologiBisnisSepak BolaMetroPolitikTransportasiGaya HidupMegapolitanPemerintahanYogyakartaOtomotif & WirausahaLayanan PublikPendidikan & KarierPopuler
Beranda/Kesehatan

Memahami Perbedaan Data Gizi Nasional dan Alasan DPR Mempertanyakan Angka 112 Juta Jiwa

Parlin SinagaDiterbitkan 1 Agu 2026 - 14.33 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Memahami Perbedaan Data Gizi Nasional dan Alasan DPR Mempertanyakan Angka 112 Juta Jiwa
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Pengukuran status gizi masyarakat merupakan langkah krusial dalam menentukan arah kebijakan kesehatan nasional di Indonesia. Baru-baru ini, data mengenai kondisi gizi penduduk menjadi sorotan utama setelah munculnya perbedaan pandangan antara Kementerian Kesehatan dan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Perdebatan ini bermula dari pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyebutkan bahwa sekitar 112 juta penduduk Indonesia masih mengalami masalah kekurangan gizi. Angka yang terbilang sangat besar ini kemudian mengundang pertanyaan kritis dari kalangan parlemen, khususnya terkait keakuratan indikator serta sumber data yang digunakan oleh pemerintah untuk menarik kesimpulan tersebut.

farmigo.id

Copyright 2026 farmigo.id - All Rights Reserved.

Kategori

SosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomy

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa angka 112 juta jiwa tersebut diperoleh dari analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024. Dalam struktur data Susenas, populasi penduduk Indonesia dibagi menjadi beberapa kelompok yang dikenal dengan istilah desil. Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa setiap desil mewakili sekitar 28 juta penduduk. Angka 112 juta jiwa tersebut didapatkan dengan mengambil empat desil terbawah dari data Susenas 2024. Kelompok masyarakat yang berada pada empat desil terbawah ini dinilai sebagai kelompok sasaran utama yang paling membutuhkan intervensi gizi dari pemerintah.

Namun, penggunaan landasan data tersebut dipertanyakan secara langsung oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris. Pada Jumat (31/7), Charles menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan perlu menjelaskan secara terbuka mengenai indikator dan metodologi yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan 112 juta warga kurang gizi. Menurut Charles, Susenas pada dasarnya dirancang sebagai survei sosial ekonomi rumah tangga secara umum. Survei tersebut bukanlah instrumen yang dirancang secara khusus untuk mengukur status gizi penduduk secara langsung, sehingga akurasinya dalam menentukan angka kekurangan gizi patut dikaji ulang.

Baca Juga

Mengawal Transisi Pemisahan Anggaran Makan Bergizi Gratis dari Dana Pendidikan

Mengawal Transisi Pemisahan Anggaran Makan Bergizi Gratis dari Dana Pendidikan

Sebagai alternatif yang jauh lebih tepat secara metodologi, Charles Honoris mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki instrumen khusus yang dirancang untuk mengukur kondisi kesehatan dan gizi masyarakat secara riil. Instrumen yang dimaksud adalah Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Selama ini, kedua survei tersebut sudah digunakan sebagai acuan utama oleh Kementerian Kesehatan. Apabila pemerintah ingin menyusun maupun mengevaluasi kebijakan perbaikan gizi nasional, rujukan utamanya seharusnya menggunakan indikator yang berasal dari SKI dan SSGI, bukan indikator kesejahteraan ekonomi yang tidak secara langsung mengukur status klinis gizi masyarakat.

Lebih lanjut, Charles menyoroti bahwa kebijakan publik harus selalu dibangun di atas indikator yang tepat, terutama untuk memperjelas tujuan utama dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Apabila tujuan utama program MBG adalah untuk memperbaiki status gizi masyarakat, maka ukuran keberhasilannya mutlak harus menggunakan indikator status gizi yang valid. Indikator tersebut mencakup penurunan angka stunting, wasting, underweight, hingga anemia, yang semuanya diukur secara akurat melalui SKI dan SSGI. Program berskala besar ini dinilai tidak bisa dievaluasi hanya berdasarkan asumsi atau indikator yang tidak secara langsung mencerminkan kondisi gizi fisik masyarakat di lapangan.

Baca Juga

Kebakaran Hotel Pullman Jakarta Barat dan Prosedur Penanganan Darurat Gedung Bertingkat

Kebakaran Hotel Pullman Jakarta Barat dan Prosedur Penanganan Darurat Gedung Bertingkat

Di sisi lain, Charles juga menegaskan bahwa jika pemerintah memang ingin menjalankan program pemberian makan bagi seluruh anak sekolah secara universal, hal tersebut harus disampaikan secara transparan kepada publik. Tujuan utamanya harus dijelaskan sebagai upaya memberi makanan kepada seluruh anak, bukan semata-mata diklaim untuk memperbaiki status gizi. Publik dinilai berhak mengetahui secara jelas apa sebenarnya tujuan dari Program MBG agar narasi program tidak terus bergeser mengikuti waktu. Transparansi ini penting agar ekspektasi masyarakat selaras dengan pelaksanaan di tingkat akar rumput.

Terlepas dari perdebatan mengenai keakuratan data dan tujuan program, pemerintah tetap melangkah maju dengan rencana intervensi pemenuhan gizi masyarakat. Salah satu langkah nyata yang telah direncanakan adalah pembukaan sekitar 13 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang juga dikenal luas sebagai dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pembukaan belasan ribu unit pelayanan gizi yang sudah ada saat ini akan dilakukan secara bertahap oleh pemerintah. Untuk memastikan efektivitas intervensi di tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan wilayah-wilayah yang saat ini tercatat masih memiliki angka stunting tinggi.

Ikuti farmigo.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

DPR RIKementerian Kesehatankesehatan masyarakatGizi BurukData Nasional

Berita Terbaru Lainnya

Kebakaran Hotel Pullman Jakarta Barat Berhasil Dikendalikan PetugasCara Mengenali Pola Kerja Jaringan Buzzer Berbayar dan Konsekuensi HukumnyaKronologi Lengkap dan Proses Hukum Kasus Pengeroyokan di Kalimalang BekasiPanduan Menerapkan Pola Asuh Digital untuk Melindungi Anak dari Bahaya InternetMengawal Transisi Pemisahan Anggaran Makan Bergizi Gratis dari Dana PendidikanKebakaran Hotel Pullman Jakarta Barat dan Prosedur Penanganan Darurat Gedung BertingkatFokus Baru Karang Taruna, Membangun Kader Berkualitas untuk Pengabdian MasyarakatCara Melayat dan Mengenang Karya Maestro Lukis Indonesia Nasirun

Paling Banyak Dibaca

Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Penjelasan Istana dan Analisis Survei

Politik

Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Penjelasan Istana dan Analisis Survei

31 Jul 2026

Peran BTN dalam Penyaluran Rumah Subsidi KPR FLPP Melalui Akad Massal di Batang

Ekonomi

Peran BTN dalam Penyaluran Rumah Subsidi KPR FLPP Melalui Akad Massal di Batang

1 Agu 2026

Motif Pembunuhan di Grogol Petamburan dan Rekapitulasi Penanganan Kasus Polda Metro Jaya

Hukum & Kriminal

Motif Pembunuhan di Grogol Petamburan dan Rekapitulasi Penanganan Kasus Polda Metro Jaya

31 Jul 2026

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

Nasional

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

30 Jul 2026

Penyelundupan 26 Kilogram Ekstasi oleh Kopilot Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta

Hukum & Kriminal

Penyelundupan 26 Kilogram Ekstasi oleh Kopilot Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta

1 Agu 2026

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

Hukum

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Subianto, Penjelasan Istana dan Analisis SurveiPolitik 路 31 Jul 2026
  2. 2Peran BTN dalam Penyaluran Rumah Subsidi KPR FLPP Melalui Akad Massal di BatangEkonomi 路 1 Agu 2026
  3. 3Motif Pembunuhan di Grogol Petamburan dan Rekapitulasi Penanganan Kasus Polda Metro JayaHukum & Kriminal 路 31 Jul 2026
  4. 4Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi NasionalNasional 路 30 Jul 2026
  5. 5Penyelundupan 26 Kilogram Ekstasi oleh Kopilot Malaysia di Bandara Soekarno-HattaHukum & Kriminal 路 1 Agu 2026
General News
Sains & Teknologi
Bisnis
Sepak Bola
Metro
Politik
Transportasi
Gaya Hidup
Megapolitan
Pemerintahan
Yogyakarta
Otomotif & Wirausaha
Layanan Publik
Pendidikan & Karier

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap