farmigo.id
BerandaSosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomyGeneral NewsSains & TeknologiBisnisSepak BolaMetroPolitikTransportasiGaya HidupMegapolitanPemerintahanYogyakartaOtomotif & WirausahaLayanan PublikPendidikan & KarierPopuler
Beranda/Ekonomi

Ekonom CORE, Faktor Domestik Sumbang 70 Persen Tekanan terhadap Rupiah

Endah PurwantoDiterbitkan 31 Jul 2026 - 01.53 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Ekonom CORE, Faktor Domestik Sumbang 70 Persen Tekanan terhadap Rupiah
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini terus menjadi sorotan di sektor ekonomi nasional. Penurunan nilai tukar mata uang ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam negeri dibandingkan dengan gejolak perekonomian global. Kondisi tersebut secara nyata tercermin dari kinerja rupiah yang saat ini masih tercatat sebagai salah satu mata uang dengan tingkat pelemahan terdalam di kawasan Asia.

Situasi pelemahan ini tampak semakin kontras ketika disandingkan dengan pergerakan nilai tukar mata uang negara-negara tetangga di kawasan Asia. Pada saat mata uang lain seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga peso Filipina sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan, rupiah justru masih terus berada dalam tren pelemahan. Bahkan, terdapat beberapa laporan yang secara spesifik menyebutkan bahwa kinerja rupiah saat ini masuk ke dalam jajaran tiga mata uang dengan performa terburuk.

farmigo.id

Copyright 2026 farmigo.id - All Rights Reserved.

Kategori

SosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomy

Menanggapi dinamika nilai tukar tersebut, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, memberikan analisis mengenai sumber tekanan terhadap rupiah. Dipo memperkirakan bahwa sekitar 60 persen hingga 70 persen tekanan yang dialami rupiah saat ini berasal dari faktor domestik. Sementara itu, faktor eksternal atau gejolak global diperkirakan hanya memberikan kontribusi sekitar 30 persen hingga 40 persen terhadap pelemahan nilai tukar tersebut.

Baca Juga

Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional

Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional

Dominasi pengaruh dari dalam negeri ini, menurut pandangan Dipo, sangat terlihat jelas dari pergerakan rupiah yang tertinggal jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara tetangga. Ia menganalisis bahwa apabila tekanan terhadap nilai tukar murni bersumber dari faktor global, maka seharusnya mata uang di kawasan Asia akan mengalami tren pelemahan dengan pola yang relatif serupa. Namun, pergerakan rupiah yang berlawanan arah dengan negara tetangga mengonfirmasi besarnya pengaruh faktor internal.

Kendati faktor domestik menjadi penyebab utama, dampak dari dinamika eksternal tetap memengaruhi pergerakan nilai tukar. Faktor global yang menyumbang porsi hingga 40 persen tersebut terutama didorong oleh kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, yakni Federal Reserve (The Fed). Kebijakan dari The Fed secara langsung memengaruhi arah arus modal global, yang pada akhirnya turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Di sisi lain, ketika membedah lebih jauh mengenai faktor domestik yang membebani rupiah, persepsi pasar memegang peranan yang esensial. Salah satu isu utama yang disoroti oleh ekonom CORE Indonesia tersebut adalah bagaimana persepsi pelaku pasar terhadap independensi Bank Indonesia (BI). Pandangan pasar terhadap independensi lembaga ini dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah pergerakan nilai tukar rupiah.

Baca Juga

Mengenal GoPay Spiker, Fitur dan Manfaatnya bagi Pelaku Usaha

Mengenal GoPay Spiker, Fitur dan Manfaatnya bagi Pelaku Usaha

Kekhawatiran mengenai independensi ini mulai mencuat seiring dengan adanya perubahan tata kelola kelembagaan di sektor keuangan. Perubahan tersebut terjadi setelah berlakunya revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Regulasi baru ini memunculkan kekhawatiran di kalangan sebagian pelaku pasar karena pemerintah dinilai memiliki peran yang lebih besar, termasuk dalam hal pengawasan dan pengaturan anggaran.

Sebagai muara dari berbagai kekhawatiran tata kelola tersebut, muncul kecemasan di kalangan pelaku pasar mengenai potensi terjadinya dominasi fiskal atau fiscal dominance. Kondisi ini merujuk pada sebuah situasi di mana kebijakan fiskal dinilai menjadi lebih dominan jika dibandingkan dengan kebijakan moneter. Persepsi mengenai dominasi fiskal inilah yang pada akhirnya terus membayangi sentimen pasar dan menambah beban tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.

Ikuti farmigo.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

EkonomiRupiahDolar ASBank IndonesiaUU P2SKCORE Indonesia

Berita Terbaru Lainnya

Menteri PKP Maruarar Sirait Wajibkan Setiap Rumah Subsidi Tanam Satu PohonMRT Jakarta Rencanakan Pembangunan Apartemen di Blok M untuk Milenial dan Gen ZAlasan Darije Kalezic Kembali Menangani PSM Makassar Musim 2026/2027Langkah Aman Berwisata di Bone Bolango Saat Cuaca EkstremKebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri NasionalMemahami Perkembangan Kasus TPPU Febrie Adriansyah dan Penetapan Tersangka BaruPresiden Prabowo Minta Aparat Turun ke Lapangan dan Jaga Kelestarian Lingkungan di BatangCara Membangun Kapabilitas dan Budaya Keberlanjutan Perusahaan Berdasarkan Praktik Pertamina

Paling Banyak Dibaca

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

Nasional

Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi Nasional

30 Jul 2026

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

Hukum

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

30 Jul 2026

Menteri PKP Maruarar Sirait Wajibkan Setiap Rumah Subsidi Tanam Satu Pohon

Nasional

Menteri PKP Maruarar Sirait Wajibkan Setiap Rumah Subsidi Tanam Satu Pohon

31 Jul 2026

MRT Jakarta Rencanakan Pembangunan Apartemen di Blok M untuk Milenial dan Gen Z

Properti

MRT Jakarta Rencanakan Pembangunan Apartemen di Blok M untuk Milenial dan Gen Z

31 Jul 2026

Alasan Darije Kalezic Kembali Menangani PSM Makassar Musim 2026/2027

Olahraga

Alasan Darije Kalezic Kembali Menangani PSM Makassar Musim 2026/2027

31 Jul 2026

Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional

Ekonomi

Kebijakan Wajib Kebun bagi Pabrik Gula Rafinasi dan Dampaknya pada Industri Nasional

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Langkah Tegas Sudaryono Benahi Program Makan Bergizi Gratis dan Internal Badan Gizi NasionalNasional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom WidiyantoroHukum 路 30 Jul 2026
  3. 3Menteri PKP Maruarar Sirait Wajibkan Setiap Rumah Subsidi Tanam Satu PohonNasional 路 31 Jul 2026
  4. 4MRT Jakarta Rencanakan Pembangunan Apartemen di Blok M untuk Milenial dan Gen ZProperti 路 31 Jul 2026
  5. 5Alasan Darije Kalezic Kembali Menangani PSM Makassar Musim 2026/2027Olahraga 路 31 Jul 2026
General News
Sains & Teknologi
Bisnis
Sepak Bola
Metro
Politik
Transportasi
Gaya Hidup
Megapolitan
Pemerintahan
Yogyakarta
Otomotif & Wirausaha
Layanan Publik
Pendidikan & Karier

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap