Sanksi ekonomi dan blokade laut sering kali menjadi instrumen utama bagi negara-negara Barat untuk membatasi ruang gerak perdagangan suatu negara. Sejak blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran kembali dilanjutkan pada 14 Juli lalu, berbagai cara digunakan oleh jaringan perdagangan minyak untuk tetap menyalurkan pasokannya ke pasar global. Salah satu wilayah yang menjadi pusat aktivitas ini adalah kawasan Outer Port Limits (EOPL) Malaysia di Laut China Selatan. Berikut adalah tahapan dan metode yang digunakan untuk menyiasati blokade tersebut guna memastikan aliran ekspor minyak mentah ke pasar internasional tetap berjalan.
Langkah pertama yang dilakukan dalam rantai distribusi ini adalah memanipulasi sistem navigasi kapal tanker. Sebagai contoh, kapal tanker minyak bernama Humanity mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) mereka saat melintasi kawasan EOPL Malaysia di Laut China Selatan. Menurut data satelit sejak awal tahun ini, tercatat ada 62 kapal yang memancarkan identitas palsu atau memilih tidak mengaktifkan sistem navigasi mereka. Kapal-kapal tersebut bergerak di rute antara wilayah Teluk, EOPL, Hong Kong, hingga ke wilayah China utara. Dengan mematikan atau memalsukan data identitas ini, kapal-kapal tersebut dapat menghindari pelacakan langsung oleh otoritas internasional saat mempersiapkan transfer kargo antar-kapal.








