Perusahaan pengelola dana lindung nilai atau hedge fund bernama Situational Awareness dilaporkan terpaksa menjual seluruh kepemilikan saham publiknya di bursa. Perusahaan yang dikelola oleh mantan peneliti OpenAI, Leopold Aschenbrenner, ini mengalami kerugian besar yang dipicu oleh anjloknya harga saham-saham di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Padahal, pada awal Juli lalu, Situational Awareness tercatat masih mengelola aset dalam jumlah yang sangat besar, yakni mencapai 45 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp 730 triliun. Kejatuhan nilai portofolio yang terjadi dalam waktu singkat ini memaksa perusahaan untuk mengambil langkah drastis demi menyelamatkan sisa aset yang ada.
Leopold Aschenbrenner merupakan sosok penting di balik strategi investasi Situational Awareness. Pria yang kini berusia 25 tahun tersebut dikenal sebagai lulusan terbaik dari Universitas Columbia yang menyelesaikan pendidikannya pada usia 19 tahun. Sebelum mendirikan hedge fund ini, ia sempat bergabung dengan tim Superalignment di OpenAI. Namun, perjalanan karirnya di OpenAI harus berakhir pada tahun 2024 setelah ia dipecat akibat tuduhan membocorkan informasi internal perusahaan. Aschenbrenner dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa dokumen yang ia bagikan kepada pihak luar bukanlah informasi rahasia, melainkan sekadar bahan diskusi mengenai keamanan pengembangan teknologi AI. Setelah keluar dari perusahaan tersebut, ia meyakini bahwa perkembangan AI akan memicu lonjakan permintaan yang masif terhadap chip, semikonduktor, pusat data, dan pasokan listrik.








