Pengembangan proyek strategis di sebuah kota sering kali membutuhkan alternatif pendanaan agar tidak sepenuhnya mengandalkan anggaran daerah. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah skema pembiayaan kolaboratif. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah daerah dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk tetap menjalankan pembangunan kawasan secara optimal. Sebagai contoh penerapan, pengembangan Pulomas Tower di Jakarta Timur dapat menjadi referensi. Proyek Pulomas Tower akan dikembangkan sebagai kawasan produktif yang terintegrasi dengan Stasiun LRT Equestrian. Integrasi ini secara khusus bertujuan untuk mendukung konsep kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Melalui langkah-langkah strategis, skema pendanaan alternatif ini dapat diwujudkan secara efektif.
Langkah pertama dalam mengembangkan proyek infrastruktur melalui skema kolaboratif adalah merumuskan konsep pembangunan yang mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru. Dalam kasus Pulomas Tower, konsep yang diusung adalah integrasi kawasan produktif dengan fasilitas transportasi publik, yakni Stasiun LRT Equestrian. Pengembangan berbasis TOD ini dirancang agar kawasan tersebut tidak hanya menjadi area komersial biasa, tetapi juga pusat mobilitas masyarakat. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjelaskan bahwa integrasi dengan Stasiun LRT Equestrian diharapkan dapat menjadikan kawasan tersebut berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi. Pemanfaatan tata ruang yang berorientasi pada transit ini dinilai mampu memperkuat pengembangan kawasan sekaligus mendukung mobilitas warga secara menyeluruh.








