Penyelidikan mengenai misteri materi gelap di alam semesta terus mengalami perkembangan penting dalam dunia astrofisika. Sejak puluhan tahun lalu, para astronom berupaya memahami perilaku materi tak kasat mata ini melalui pengamatan kurva rotasi galaksi. Fenomena ini pertama kali menarik perhatian secara luas ketika data menunjukkan bahwa bintang-bintang di bagian luar galaksi bergerak terlalu cepat untuk bisa dijelaskan hanya dengan menggunakan massa benda langit yang terlihat. Ketidaksesuaian tersebut memicu lahirnya berbagai hipotesis baru mengenai sifat dasar materi gelap, termasuk teori yang melibatkan gelombang materi gelap dan pembentukan struktur unik berupa inti soliton di pusat galaksi.
Landasan pengamatan kurva rotasi ini telah dibangun melalui serangkaian penelitian historis sejak era 1970-an. Pada masa itu, astronom Rubin dan Ford melakukan pengamatan terhadap galaksi Andromeda (M31) menggunakan spektroskopi optik. Penelitian ini kemudian diperkuat oleh Bosma pada tahun 1981 melalui survei radio dari garis emisi hidrogen netral 21-cm di galaksi NGC 3198. Memasuki era modern, proyek THINGS yang dipublikasikan oleh Walter dan rekan-rekannya pada tahun 2008 menganalisis 34 galaksi spiral dengan resolusi spasial tinggi menggunakan instrumen Very Large Array. Hasil-hasil pengamatan ini secara konsisten menunjukkan adanya pergerakan bintang yang terlalu cepat di bagian luar galaksi. Selain itu, pengamatan aktual pada galaksi kerdil seperti Fornax dan Sculptor menunjukkan profil kepadatan yang mendatar di bagian dalam, yang sangat kontras dengan prediksi simulasi partikel berat yang memperkirakan adanya puncak kepadatan yang tajam. Jumlah galaksi satelit di sekitar Bima Sakti juga ditemukan jauh lebih sedikit daripada yang diproyeksikan oleh model partikel berat tersebut.







