farmigo.id
BerandaSosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomyGeneral NewsSains & TeknologiBisnisSepak BolaMetroPolitikPopuler
Beranda/Sains & Teknologi

Mengkaji Gelombang Materi Gelap dan Formasi Inti Soliton di Pusat Galaksi

Horas TobingDiterbitkan 30 Jul 2026 - 05.46 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Mengkaji Gelombang Materi Gelap dan Formasi Inti Soliton di Pusat Galaksi
Foto/Ilustrasi: kumparan.com.
A-A+

Penyelidikan mengenai misteri materi gelap di alam semesta terus mengalami perkembangan penting dalam dunia astrofisika. Sejak puluhan tahun lalu, para astronom berupaya memahami perilaku materi tak kasat mata ini melalui pengamatan kurva rotasi galaksi. Fenomena ini pertama kali menarik perhatian secara luas ketika data menunjukkan bahwa bintang-bintang di bagian luar galaksi bergerak terlalu cepat untuk bisa dijelaskan hanya dengan menggunakan massa benda langit yang terlihat. Ketidaksesuaian tersebut memicu lahirnya berbagai hipotesis baru mengenai sifat dasar materi gelap, termasuk teori yang melibatkan gelombang materi gelap dan pembentukan struktur unik berupa inti soliton di pusat galaksi.

Landasan pengamatan kurva rotasi ini telah dibangun melalui serangkaian penelitian historis sejak era 1970-an. Pada masa itu, astronom Rubin dan Ford melakukan pengamatan terhadap galaksi Andromeda (M31) menggunakan spektroskopi optik. Penelitian ini kemudian diperkuat oleh Bosma pada tahun 1981 melalui survei radio dari garis emisi hidrogen netral 21-cm di galaksi NGC 3198. Memasuki era modern, proyek THINGS yang dipublikasikan oleh Walter dan rekan-rekannya pada tahun 2008 menganalisis 34 galaksi spiral dengan resolusi spasial tinggi menggunakan instrumen Very Large Array. Hasil-hasil pengamatan ini secara konsisten menunjukkan adanya pergerakan bintang yang terlalu cepat di bagian luar galaksi. Selain itu, pengamatan aktual pada galaksi kerdil seperti Fornax dan Sculptor menunjukkan profil kepadatan yang mendatar di bagian dalam, yang sangat kontras dengan prediksi simulasi partikel berat yang memperkirakan adanya puncak kepadatan yang tajam. Jumlah galaksi satelit di sekitar Bima Sakti juga ditemukan jauh lebih sedikit daripada yang diproyeksikan oleh model partikel berat tersebut.

farmigo.id

Copyright 2026 farmigo.id - All Rights Reserved.

Kategori

SosialHukumKriminalKesehatanBerita DaerahBerita UmumHukum & KriminalRegionalBerita LokalEkonomiKeuanganNasionalEkonomi BisnisOlahragaKeamananPendidikanBisnis & KeuanganInternasionalOtomotifKulinerTeknologiNewsHiburanBeritaLokalEconomy

Untuk menjawab kelemahan model partikel berat, para ilmuwan mengajukan model alternatif yang melibatkan partikel boson ultraringan. Jika partikel materi gelap merupakan boson ultraringan, massanya diperkirakan hanya sekitar seperseribu triliun kali dari massa elektron. Dalam kondisi awal alam semesta yang sangat rapat dan dingin, partikel-partikel boson ini jatuh ke tingkat energi dasar yang sama, sehingga membentuk satu entitas kuantum raksasa yang disebut Bose-Einstein Condensate. Pada skala galaksi, fenomena ini memicu terbentuknya soliton, yaitu paket gelombang yang mampu mempertahankan bentuknya berkat keseimbangan antara tarikan gravitasi dan tekanan yang berasal dari ketidakpastian kuantum.

Baca Juga

Cara Memanfaatkan Tarif 0 Persen Ekspor Olahan Tuna dan Cakalang ke Jepang

Cara Memanfaatkan Tarif 0 Persen Ekspor Olahan Tuna dan Cakalang ke Jepang

Keberadaan gelombang materi gelap ini juga memengaruhi batas ukuran minimum galaksi. Panjang gelombang materi menentukan ukuran granula materi gelap, yang dapat mencapai sekitar satu kiloparsec. Berdasarkan pemodelan fisik, apabila suatu partikel memiliki massa sebesar 10 pangkat minus 22 elektronvolt, maka massa minimum dari sebuah galaksi adalah sekitar 10 pangkat 8 massa matahari. Akibatnya, struktur dengan massa di bawah sekitar seratus juta massa matahari diproyeksikan tidak akan pernah runtuh. Meskipun demikian, analisis gabungan dari data Lyman-alpha dan pengukuran suhu medium antargalaksi memberikan batasan yang lebih ketat, dengan menempatkan batas bawah massa partikel di atas 2 kali 10 pangkat minus 21 elektronvolt.

Upaya untuk membuktikan keberadaan granula materi gelap dilakukan melalui berbagai metode observasi canggih. Salah satunya adalah pengamatan terhadap aliran bintang GD-1 di sekitar galaksi Bima Sakti yang memanfaatkan data dari Teleskop Gaia dan instrumen Keck DEIMOS. Selain itu, pendeteksian juga dapat dilakukan dengan mengamati cahaya dari quasar latar belakang yang melintasi granula materi gelap. Cahaya tersebut akan mengalami pembelokan yang berbeda pada setiap jalur lintasannya, sehingga menghasilkan anomali fluks berupa perbedaan kecerahan antarcitra.

Dinamika interaksi di antara partikel axion di dalam inti soliton turut menentukan struktur pusat galaksi. Jika terjadi interaksi tolak-menolak, partikel axion di dalam inti soliton akan saling mendorong dan meningkatkan tekanan efektif, sehingga membuat inti soliton menjadi lebih besar dan lebih tersebar. Sebaliknya, interaksi tarik-menarik antar-axion dapat menyebabkan inti soliton mengalami keruntuhan mendadak ketika massanya melampaui nilai kritis tertentu. Sisa-sisa dari keruntuhan inti soliton ini diduga dapat menjadi benih bagi pembentukan lubang hitam supermasif yang diamati di pusat galaksi besar. Kendati teori ini menawarkan penjelasan yang komprehensif, batas atas dari eksperimen seperti ADMX dan CAST sejauh ini telah mengecualikan sebagian besar rentang parameter untuk partikel axion tersebut.

Ikuti farmigo.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

materi gelapsolitonastronomigalaksifisika kuantum

Berita Terbaru Lainnya

Upaya Dinas Pariwisata Kota Jayapura Mengembangkan Kampung Wisata untuk Mendorong Ekonomi LokalCara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom WidiyantoroDampak Perang AS-Iran Dinilai Perlu Diantisipasi dengan Kebijakan AdaptifTata Kelola dan Tantangan Program Internship Dokter di IndonesiaManajemen Batas Gaji NBA Melalui Strategi Transfer Philadelphia 76ersPerjalanan Karier dan Jejak Kemanusiaan Glen Hansard, Musisi Peraih Oscar Asal IrlandiaPanduan Lengkap Geely Coolray, Spesifikasi, Fitur, dan Harga SUV Turbo TerbaruKinerja Keuangan GoTo Semester I 2026, Rincian Laba dan Sumber Pendapatan

Paling Banyak Dibaca

Upaya Dinas Pariwisata Kota Jayapura Mengembangkan Kampung Wisata untuk Mendorong Ekonomi Lokal

Regional

Upaya Dinas Pariwisata Kota Jayapura Mengembangkan Kampung Wisata untuk Mendorong Ekonomi Lokal

30 Jul 2026

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

Hukum

Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro

30 Jul 2026

Dampak Perang AS-Iran Dinilai Perlu Diantisipasi dengan Kebijakan Adaptif

Nasional

Dampak Perang AS-Iran Dinilai Perlu Diantisipasi dengan Kebijakan Adaptif

30 Jul 2026

Tata Kelola dan Tantangan Program Internship Dokter di Indonesia

Kesehatan

Tata Kelola dan Tantangan Program Internship Dokter di Indonesia

30 Jul 2026

Manajemen Batas Gaji NBA Melalui Strategi Transfer Philadelphia 76ers

Olahraga

Manajemen Batas Gaji NBA Melalui Strategi Transfer Philadelphia 76ers

30 Jul 2026

Perjalanan Karier dan Jejak Kemanusiaan Glen Hansard, Musisi Peraih Oscar Asal Irlandia

Hiburan

Perjalanan Karier dan Jejak Kemanusiaan Glen Hansard, Musisi Peraih Oscar Asal Irlandia

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Upaya Dinas Pariwisata Kota Jayapura Mengembangkan Kampung Wisata untuk Mendorong Ekonomi LokalRegional 路 30 Jul 2026
  2. 2Cara Memahami Kronologi dan Fakta Hukum Kasus OTT Bupati Pemalang Anom WidiyantoroHukum 路 30 Jul 2026
  3. 3Dampak Perang AS-Iran Dinilai Perlu Diantisipasi dengan Kebijakan AdaptifNasional 路 30 Jul 2026
  4. 4Tata Kelola dan Tantangan Program Internship Dokter di IndonesiaKesehatan 路 30 Jul 2026
  5. 5Manajemen Batas Gaji NBA Melalui Strategi Transfer Philadelphia 76ersOlahraga 路 30 Jul 2026
General News
Sains & Teknologi
Bisnis
Sepak Bola
Metro
Politik

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap