Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk mengubah arah kebijakan dan strategi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tanah air. Dalam upaya menekan angka kasus gangguan pertumbuhan pada anak, BGN kini menetapkan daerah-daerah dengan tingkat prevalensi stunting yang tinggi sebagai prioritas utama penyaluran program tersebut. Langkah ini diambil agar alokasi bantuan gizi dapat lebih tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih signifikan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan perubahan fokus strategi ini saat ditemui di Gedung BGN, Jakarta, pada hari Rabu (29/7/2026). Ia menyatakan bahwa langkah penentuan daerah prioritas ini didasarkan pada hasil pemetaan wilayah yang terperinci. Dalam melakukan pemetaan tersebut, pihak BGN menggunakan basis data yang bersumber dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.
Merujuk pada data SSGI 2024 tersebut, sebaran wilayah di Indonesia terbagi ke dalam beberapa kelompok kerawanan stunting. Tercatat hanya ada 20 kabupaten/kota yang berada dalam kelompok dengan prevalensi stunting terendah. Di sisi lain, terdapat 182 kabupaten/kota yang masuk dalam kategori sedang. Kelompok terbesar diisi oleh daerah dengan tingkat stunting mengkhawatirkan, yakni sebanyak 220 kabupaten/kota dalam kategori tinggi, serta 92 kabupaten/kota yang masuk ke dalam kategori sangat tinggi.








